Aku ingin !
Acap kali kita selalu tertegun dengan keberhasilan seseorang, entah itu berhasil karena sudah mendapatkan pekerjaan yang baik (dalam hal penghasilan), materi yang melimpah, keluarga yang bahagia (bagi yang sudah menikah) dan masih banyak hal lain.
Seperti layaknya pepatah lama, "Rumput Tetangga Jauh Lebih Indah Ketimbang Rumput Sendiri". Kehidupan orang lain terasa jauh lebih baik, lebih indah lebih makmur, lebih lebih dari apa yang kita miliki saat ini.
Sikap seperti itu layaknya sangat sulit sekali untuk kita buang, terlebih saat ini kehidupan kita memang pada kenyataan nya masih terasa sulit, masih terasa lebih banyak derita ketimbang suka.
Pekerjaan yang masih belum menentu mungkin ditambah dengan hutang yang tak kunjung usai terselesaikan, di tambah dengan tekanan tekanan dalam keluarga entah itu tekanan untuk segera menikah maupun tekanan untuk segera mendapatkan pekerjaan yang layak.
Bagi saya yang sudah selama 6 Tahun telah menyelesaikan studi Diploma 3 ini masih saja belum mendapatkan pekerjaan atau usaha untuk menjemput rejeki yang memang sesuai dan tepat tidak hanya sesuai dengan hati juga sesuai dengan penghasilannya.
Selama 6 Tahun pencarian ini aku selalu saja di hadapkan pada masih belum sesuai nya gelombang hati kepada pekerjaan yang sudah atau telah saya jalani selama ini.
Entah itu sebagai sales yang berkeliling kesana kemari menjajakan barang elektronik, sales jasa keuangan yang berpakaian layaknya perlente untuk menggaet nasabahnya, hingga sales part kendaraan niaga (Ban Truk dan Fuso), hingga menjadi staff administrasi yang pekerjaan nya hanya menjejalkan data data dan data ke dalam unit komputer.
Dari semua itu belum ada yang sesuai sama sekali dengan hati saya, semua saya jalani namun tetap seperti ada yang mengganjal di dalam hati.
Hati ku ini terasa sangat sensitif sekali, entah mengapa saya juga tak pernah tahu, mengapa bisa se sensitif ini. Ingin rasanya aku dobrak apabila sudah muncul perasaan yang membuat aku berkata "Ini mengapa, ini mengapa begini, harusnya kan begini, aku tak bisa begini".
Aku selalu bentrok dengan hati nurani ku sendiri apabila di dalam pekerjaan ku aku melihat ketidaksesuaian antara yang aku ketahui atau nurani ku, aku selalu saja menolak untuk melanjutkan.
Ingin rasanya aku cukuplah bekerja, menjalankan apa yang pimpinan minta, tanpa ba bi bu be bo dengan hati ku sendiri. Cukup lelah mengikuti hati ku ini, walau sebenarnya hati ku tak pernah salah.
Namun, hasil dari aku mengikuti hati ku yang serba salah itu sampai sekarang aku masih belum mendapatkan tambatan hati untuk menjemput rejeki ku.
Entah dimana, bagaimana dan dengan cara seperti apa aku tak pernah tahu, entah aku ingin menjadi apa pun aku tak pernah tahu. Aku selalu mempertaruhkan masa depan ku.
Aku kalah, dan masih belum tau bagaimana caranya untuk menang.
Seperti layaknya pepatah lama, "Rumput Tetangga Jauh Lebih Indah Ketimbang Rumput Sendiri". Kehidupan orang lain terasa jauh lebih baik, lebih indah lebih makmur, lebih lebih dari apa yang kita miliki saat ini.
Sikap seperti itu layaknya sangat sulit sekali untuk kita buang, terlebih saat ini kehidupan kita memang pada kenyataan nya masih terasa sulit, masih terasa lebih banyak derita ketimbang suka.
Pekerjaan yang masih belum menentu mungkin ditambah dengan hutang yang tak kunjung usai terselesaikan, di tambah dengan tekanan tekanan dalam keluarga entah itu tekanan untuk segera menikah maupun tekanan untuk segera mendapatkan pekerjaan yang layak.
Bagi saya yang sudah selama 6 Tahun telah menyelesaikan studi Diploma 3 ini masih saja belum mendapatkan pekerjaan atau usaha untuk menjemput rejeki yang memang sesuai dan tepat tidak hanya sesuai dengan hati juga sesuai dengan penghasilannya.
Selama 6 Tahun pencarian ini aku selalu saja di hadapkan pada masih belum sesuai nya gelombang hati kepada pekerjaan yang sudah atau telah saya jalani selama ini.
Entah itu sebagai sales yang berkeliling kesana kemari menjajakan barang elektronik, sales jasa keuangan yang berpakaian layaknya perlente untuk menggaet nasabahnya, hingga sales part kendaraan niaga (Ban Truk dan Fuso), hingga menjadi staff administrasi yang pekerjaan nya hanya menjejalkan data data dan data ke dalam unit komputer.
Dari semua itu belum ada yang sesuai sama sekali dengan hati saya, semua saya jalani namun tetap seperti ada yang mengganjal di dalam hati.
Hati ku ini terasa sangat sensitif sekali, entah mengapa saya juga tak pernah tahu, mengapa bisa se sensitif ini. Ingin rasanya aku dobrak apabila sudah muncul perasaan yang membuat aku berkata "Ini mengapa, ini mengapa begini, harusnya kan begini, aku tak bisa begini".
Aku selalu bentrok dengan hati nurani ku sendiri apabila di dalam pekerjaan ku aku melihat ketidaksesuaian antara yang aku ketahui atau nurani ku, aku selalu saja menolak untuk melanjutkan.
Ingin rasanya aku cukuplah bekerja, menjalankan apa yang pimpinan minta, tanpa ba bi bu be bo dengan hati ku sendiri. Cukup lelah mengikuti hati ku ini, walau sebenarnya hati ku tak pernah salah.
Namun, hasil dari aku mengikuti hati ku yang serba salah itu sampai sekarang aku masih belum mendapatkan tambatan hati untuk menjemput rejeki ku.
Entah dimana, bagaimana dan dengan cara seperti apa aku tak pernah tahu, entah aku ingin menjadi apa pun aku tak pernah tahu. Aku selalu mempertaruhkan masa depan ku.
Aku kalah, dan masih belum tau bagaimana caranya untuk menang.
